Terlahir Kembali

Terlahir kembali adalah portrait Individu-individu keturunan etnis Thionghoa yang menjadi mualaf di Aceh. Mereka memilih langkah ini karena kesadaran dan pilihan mereka sendiri. Tentunya keyakinan itu dipilih berdasarkan berbagai pertimbangan. Ada yang menjadi mualaf karena pernikahan, ada juga karena ketertarikan terhadap Islam, bahkan ada yang disebabkan karena pengalaman secara supranatural.

Menurut literatur yang ada, masuknya etnis Thionghoa sudah ada sejak abad ke-17. Aceh dan Thionghoa memiliki hubungan yang baik. Pada awalnya mereka datang ke Aceh sebagai pedagang musiman.  Kemudian mereka menetap dan menjadi pedagang permanen. Peunayong salah satu daerah di Aceh yang sering disebut sebagai Chinese Townnya Aceh karena berkumpulnya etnis Thionghoa di daerah tersebut menjalani aktifitas mereka sebagai pedagang. Mereka hidup rukun berdampingan satu sama lain dan menjalani aktifitas mereka sebagaimana biasanya.

Ada hal yang sangat membuat penilis terkagum dari diskusi dan wawancara dengan beberapa tokoh, ketertarikan mereka masuk Islam bukan karena adanya sebuah tekanan atau paksaan melaikan karena kenyamanan yang mereka rasakan serta kebebasan dalam beragama yang tercipta di lingkungan masyarakat Aceh.  Hal ini merupakan sebuah langkah keberhasilan dari visi ke 11  Pemerintah Aceh melalui bapak Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah. Menggembalikan Khitta Aceh sebagai bumi serambi Mekkah melalui implementasi nila-nilai keagamaan yang tercipta di lingkungan masyarakat Aceh sendiri  sehingga menjadi daya tarik bagi siapa saja yang datang ke Aceh dan menjadi teladan kehidupan bagi orang-orang Non Muslim sehingga keberagaman yang sampai saat ini telah sangat kuat terbangun di Aceh menjadi contoh bagi daerah-daerah lain di Indonesia.